Maliki yaumiddin
Yang merajai Hari Pembalasan
Yaumiddin artinya hari pembalasan, yaitu kehidupan akhirat. Jika kita mengartikan kehidupan dunia sebagai masa untuk menyemai atau menanam, maka kehidupan akhirat adalah masa untuk menuai atau memanen.
Yaumiddin adalah kehidupan akhirat, sebagai masa untuk memanen apa yang kita tanam dalam kehidupan dunia kita. Jika amal kebajikan yang kita tanam, maka buah kebajikan pula yang akan kita panen. Jika amal kebajikan yang kita tanam maka buah kebajikan pula yang akan kita panen. Jika amal keburukan yang kita tanam, buah keburukan pula yang akan kita panen. Dan hasil panen tersebut akan kita nikmati selamanya.
Dalam perspektif dunia, kita bisa pahami tentang masa kini sebagai masa untuk menanam dan masa mendatang sebagai masa untuk memanen. Agar kita bisa memanen buah kebajikan di masa mendatang, kita harus menanam perbuatan baik di masa sekarang. Waktu yang benar-benar kita miliki adalah masa kini atau saat sekarang. Bagaimana kita memanfaatkan waktu sekarang ini untuk menanam dengan melakukan suatu kebajikan, atau perbuatan baik dengan harapan kita akan memanen buah kebajikan di masa mendatang. Saat ini perlu melakukan suatu usaha, ihtiar dengan bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja ihlash sehingga kelak kita bisa menuai hasil seperti yang kita inginkan yaitu kesuksesan.
Jika kehidupan di dunia ini adalah masa kini dan kehidupan akhirat adalah masa mendatang, tentu sebagai manusia yang percaya kehidupan akhirat, kita perlu memperbaiki perbuatan atau amalan kita. Amalan yang terbaik adalah amalan yang sesuai dengan aturan atau ketetapan Allah dalam Kitab Suci Al-Quran dan Sunah Rasulullah, yang dilakukan dengan niat mencari keridloan Allah dan dilaksanakan dengan tulus ihlas. Inilah yang perlu kita pahami tentang yaumiddin yang mengingatkan pada kita semua, untuk mengevaluasi perbuatan kita di dunia ini. Dan yang perlu kita tancapkan dalam hati yang terdalam bahwa yang menguasai hari pembalasan adalah Allah swt.
Maliki yaumiddin artinya Allahlah yang menguasai hari pembalasan. Dialah Allah yang Maha adil, Maha teliti, Maha matematis juga Maha rahman dan rahim.
Pembaca, sekarang coba renungkan kembali berapa usia kita hari ini? 20 … 30 … 40 … 50 … atau 60 tahun? Coba kurangi dengan usia akil baligh kita misalnya 12 tahun. Berarti sebanyak itulah masa usia kita yang akan dipertanggung jawabkan pada Allah swt, jika tiba-tiba Dia mencabut nyawa kita. Cobalah hitung dosa dan kemaksiatan yang telah kita lakukan? Bagaimana kewajiban sholat yang kita tidak lakukan? Hitung pula berapa perbuatan kita yang telah menyakiti orang lain, menyakiti saudara kita, keluarga kita atau bahkan orang tua kita? Bandingkan dengan amal kebaikan kita, amal ketaqwaan yang kita lakukan dengan ihlas. Bagaimana? Ya … barangkali memang lebih banyakhitungan amal kemaksiatan dalam kehidupan kita dan itulah kelak yang akan kita panen.
Jika kita menyadari tentang dosa dan kemaksiatan yang telah kita lakukan itu, segeralah beristighfar dan bertaubat kepada Allah sebelum maut benar-benar menjemput kita. Lakukan taubat dengan sungguh-sungguh. Beristighfar, memohon ampun kepada Allah dan berjanji dalam hati untuk tidak lagi melakukan perbuatan dosa dan kemaksiatan kembali. Kita harus berkomitmen pada diri sendiri untuk memperbaiki kwalitas iman kita, meningkatkan peribadatan kita dan senantiasa bertaqorub pada Allah sebagai Raja dan Penguasa di Hari Pembalasan.
