Benarkah kita benar-benar dapat membedakan pikiran dan perasaan????
Secara pribadi jujur saya jawab BELUM! Tapi ada sebagian orang yang berpikir (atau merasa?) bahwa pikiran dan perasaan mudah sekali dibedakan. Lebih aneh lagi ketika mereka bilang bahwa membedakan pikiran dan perasaan dapat dilakukan berdasarkan pengalaman hidup ^_^™. Emang segampang itu, ya?!
Cerita tentang kebingungan saya ini bermula dari sebuah sms. Sms yang berisi protes tentang betapa tidak ber-perasaannya saya terhadap masalah orang lain yang tidak saya share-kan ke dia dan betapa saya hanya mengedepankan pikiran. Dia menganggap bahwa dengan tidak menceritakan masalah salah satu teman kami ke dia, SAYA SUNGGUH SANGAT TIDAK BER-PERASAAN!
Lha kok gitu, ya? Maksud hati biar si empunya masalah yang cerita sendiri ketika dia butuh, eh saya malah dianggap bersalah karena tidak memakai perasaan dalam hal ini. Saya disuruh pake hati agar lebih wise dalam menghadapi masalah ini.. (emang ada hati yang dapat menyelesaikan masalah,ya? Di mana tu, belinya?! ;p). Emang kodrat cewek HARUS cuma pake PERASAAN, ya? Kok saya selalu ditekankan dan diingatkan untuk selalu ber-PERASAAN (perasaan yang mana,ya?).
Saya mencoba tenang sambil membalas smsnya: Coz mbedain perasaan ‘n pikiran tu ga gampang, wong aq yang dah lama belajar ttg itu aja masih brusaha memahami perbedaannya. Ga tau kl orang lain yang bljrny g pake lama. Trus yang buat saya semakin pengen ngekek adalah ketika si teman yang ngakunya sudah dapat membedakan pikiran dan perasaan ini mencoba membuat kesimpulan bahwa saya tidak berperasaan karena saya belum paham apa perbedaan pikiran dan perasaan.
Merasa tersindir dengan sms saya, dia membalas: Emang mbedain kyk gt hrs ada pelajaran khususnya, ya?
Tanpa panjang lebar, saya menutup perang sms ini dengan membalas : Kan q da
