Bagaimana memahami ayat kedua dari S. Al-Fatikhah? Ayat kedua berbunyi : Alhamdulillahi Robbil ‘alamiin yang dapat diterjemahkan : “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam“. Saya akan coba memaknai berdasarkan pemahaman yang pernah saya dapatkan plus eksplorasi sesuai dengan NLP sebagai berikut:
Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah) mengandung pengertian bahwa segala pujian atas setiap kejadian, peristiwa, mahluk di alam semesta yang membuat kita takjub dan melihatnya sebagai sesuatu yang luar biasa, hanyalah layak kita persembahkan kepada Allah. Terwujudnya setiap keinginan, atau penerimaan karunia dan keberlimpahan adalah bersumber dari Allah. Potensi sumber daya yang kita gunakan untuk mencapai outcome bersumber dariNya. Seluruh kekuatan dan energi yang kita gunakan untuk melakukan aktivitas mewujudkan setiap outcome juga bersumber dariNya. Udara yang kita hirup dan masuk ke paru-paru kemudian ditransfer ke seluruh sel tubuh kita dan juga menjadi asupan otak kita sehingga bisa bekerja juga bersumber dariNya. Air yang kita minum setiap hari dan juga makanan yang masuk ke dalam perut kita adalah merupakan karuniaNya.
Jika kita menengok lingkungan kita, flora fauna yang tumbuh dan berkembang, sinar matahari dan bumi tempat berpijak bagi makhluk di dunia ini adalah ciptaanNya. Ilmu dan pengalaman yang kita dapatkan juga berasal darinya. Karena itu setiap detik, setiap menit, setiap waktu kita semestinya bersyukur dan berterima kasih kepadaNya, dan ucapan Alhamdulillah adalah representasi verbal yang kita persembahkan padaNya. Pada saat yang sama hati dan perasaan kita akan merasa betapa bahagianya, Allah telah sediakan seluruh sumber daya diri dan alam semesta ini untuk kita manusia dan kemudian tinggal mengelolanya untuk kemanfaatan seluruh ummat. Kita lakukan semua itu dengan ketulusan hati dan keikhlasan.
Robbil’alamiin (Tuhan semesta alam) menegaskan bahwa Allahlah Tuhan semesta alam, yang menciptakan (Al-Kholiq), yang memelihara (Al-Maalik) dan yang memberikan rezeki (Ar-Roziiq) bagi seluruh makhluknya. Pernyataan dan pengakuan akan Allah sebagai Tuhan semesta alam benar-benar kita install dalam subconsious kita, dalam hati yang terdalam. Sehingga menghasilkan getaran (vibrasi) yang dahsyat dan memunculkan energi atau kekuatan yang luar biasa untuk menggerakkan seluruh potensi kita dalam mengabdi pada Sang Ilahi. Dimana dampak pengabdian pada Ilahi ini adalah kemanfaatan bagi orang-orang tercinta, orang tua, suami-istri, anak-anak, tetangga, komunitas dan semua manusia di bumi ini.
Ayat ketiga : Ar-Rahmanir Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), bisa dimaknai seperti pada tulisan pertama.
Ayat Keempat ; Maaliki yaumid dien (Yang Menguasai hari pembalasan) dapat dipahami sebagai berikut:
Yaumid-dien artinya hari pembalasan. Result dari seluruh aktivitas dunia kita akan diperhitungkan pada hari pembalasan itu. Dunia adalah tempat menyemai, menanam amal perbuatan dan yaumid-dien adalah waktu menuai atau saat kita memanen. Seberapa besar apapun yang kita lakukan, amal kebaikan atau amal keburukan kita akan memanennya pada hari pembalasan, pada hari keabadian. Dan Sang Raja yang Menguasai hari pembalasan atau keabadian itu adalah Allah subhanallah wata’ala. Maka Dia sangat teliti perhitungannya dan sangat adil memberikan hasil akhir panenan tersebut.
Pembaca, jika pemahaman semacam ini yang kita install tiap hari minimal 17 kali, betapa dahsyatnya orang-orang yang menjalankan sholat. Firman Allah yang mengandung makna yang indah, yang luar biasa dan bisa lebih dahsyat lagi jika kita mau maknai dengan kemampuan VAKOG kita. WAW!!! terciptalah manusia-manusia sempurna dan mulia, sebagai mana kehendakNya.
Bagaimana makna ayat-ayat selanjutnya, tunggu pada posting berikutnya. (Wallahua’lam)
