Aug
29
    
Posted (Abdul Latief, Novel) in Umum on August-29-2008 (322 views)

Masih terngiang dalam benak saya, kata-kata Bung Stefanus saat bincang-bincang di sela acara NLP Practitioner Coaching di Semarang, akhir Juni lalu. “Setelah mempelajari NLP saya memaknai setiap kata begitu BERARTI. Dan ketika saya membaca KITAB SUCI, kata-katanya begitu indah dan maknanya DAHSYAT!”

Kata-kata Bung Stefanus hingga saat ini masih terdengar dan menancap dalam hati dan muncul niatan saya suatu saat nanti saya akan membuka dan membaca kitab suci AL-QUR’AN untuk mencermati kata-kata yang ada. Akhirnya, pagi tadi saya coba membuka AL-QUR’AN dan membaca Surat AL-FATIKHAH yang artinya Pembukaan. Dan benar …. sungguh DAHSYAT. Luar biasa!

Tulisan ini hanyalah sekedar cerita pemaknaan kata-kata dari Surat Al-Fatikhah sebatas yang saya ketahui, it’s my MAP. Semoga bisa memberikan sentuhan spiritual pembaca, apapun agamanya, karena sangat universal.

Bagi seorang muslim yang menjalankan Sholat Wajib secara rutin, S. Al-Fatikhah ini akan dibaca minimal 17 kali dalam setiap hari. Logikanya kata-kata dalam S. Al-Fatikhah ini akan mampu mempengaruhi jiwanya dan memprosesnya menjadi manusia sempurna (insan kamil). Persis (?) tujuan NLP yakni memprogram kata-kata (bahasa) ke dalam diri atau jiwa untuk menjadi manusia sempurna.

Pertanyaannya, kenapa hanya sedikit orang yang melakukan sholat secara rutin mampu berproses (melakukan perubahan) menuju manusia sempurna??? Yang bisa bermanfaat bagi sesama??? Jawabannya barangkali (?) : ketika membaca S. Al-Fatikhah atau bacaan lainnya dalam sholat hanyalah sekedar aktivitas bibir saja, tidak masuk dalam pikiran sadar (consious) maupun pikiran bawah sadarnya (sub-consious).

Pada saat kanak-kanak dan remaja, ketika ngaji pada seorang ustadz atau silaturahim kepada seorang Kyai, sering dikisahkankan tentang KEAMPUHAN bacaan S. Al-Fatikhah untuk mengatasi segala problem kehidupan. Ingin jadi anak pintar, ingin jadi sang juara, ingin jadi anak sehat, ingin jadi orang terkenal, ingin sukses dalam bergaul, ingin rumah tangga harmonis, ingin karier melesat dan untuk melakukan therapy atas semua penyakit cukup dengan surat Al-Fatikhah. “Baca tujuh kali atau 41 kali Surat Al-Fatikhah, lalu tiupkan ke tubuh atau tiupkan ke segelas air bening dan minumlah air bening itu!” kata Pak Kyai. Apapun hasilnya, sebenarnya sangat tergantung dari sugesti yang tertanam dan bagaimana seseorang memaknai proses solusi dengan S. Al-Fatikheh tersebut.

Bagi saya pribadi saat ini, dengan menggunakan logika NLP, bagaimana seseorang memaknai kata-kata yang ada dalam S. Al-Fatikhah untuk memprogram dalam diri atau jiwanya sesuai dengan pesan seorang ustadz atau pak Kyai tersebut. Dengan memahami makna Surat Al-Fatikhah ini, bisa digunakan untuk melakukan reframing dalam subconsious seseorang.

Saya coba kutipkan Surat Al-Fatikhah yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai berikut :

  1. Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

  2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

  3. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

  4. Yang merajai (menguasai) hari Pembalasan.

  5. Hanya kepadaMulah kami menyembah dan hanya kepadaMulah kami minta tolong.

  6. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (benar).

  7. Jalannya orang-orang yang telah Engkau berik kenikmatan atas mereka, bukan (jalannya) orang-orang yang Engkau murkai dan orang-orang yang sesat.

Ayat pertama: “Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Ayat ini bisa dimaknai, ketika hendak melakukan setiap aktivitas, mulailah dengan menyebut nama Tuhan Allah, dengan niatan semata-mata untuk mencari keridloanNya. Bukan untuk mengharapkan sekedar outcome yang kecil, tapi outcome yang luar biasa yakni KERIDLOAN Allah. Artinya jika Allah meridloi aktivitas seseorang maka apapun yang diinginkan dan dilakukan akan dapat terwujudkan. Keridloan akan menumbuhkan ketenangan dan kebahagiaan yang tiada taranya.

Tuhan Allah memiliki sifat Maha Pengasih (Ar-Rahman) dan Maha Penyayang (Ar-Rahim). Ar-Rahman berarti sifat kasih sayang Allah yang diberikan kepada seluruh makhluknya, baik macrocosmos (alam semesta) maupun microcosmos (manusia). Baik mereka yang mau mengakui Allah sebagai Tuhannya ataupun yang tidak mengakui, bahkan yang menentangNya pun tetap mendapat kasih sayangNya, berupa kehidupan, kesehatan dan rejeki yang dimakan setiap harinya, tanpa syarat apapun!

Itulah sifat Ar-Rahman yang bisa menjadi pelajaran bagi setiap orang untuk BERBAGI cinta dan kasih sayang kepada semua makhluk, kepada sesama. Lebih-lebih terhadap orang-orang dekatnya: orang tua, suami, istri, anak-anak, sahabat, tetangga dan setiap orang yang dikenal maupun tidak dikenalnya. Dengan cinta dan kasih sayang, sesorang akan lakukan yang terbaik bagi orang lain, dengan memahami VAKOGnya, dengan komunikasi yang optimal, dengan melakukan matching, pacing dan leading dengan outcome kebahagian dan cinta!

Nah coba anda renungkan, bayangkan, rasakan, jika sifat Ar-Rahman Allah ini ditumbuhkan dalam diri setiap orang, kemudian dibagikan kepada setiap sesamanya, betapa di bumi ini, kita akan temukan dunia yang penuh kedamaian, dunia yang penuh ketenangan, dunia yang penuh kebahagiaan, dunia yang penuh cinta dan tebaran kasih sayang! WAW!!! Tidak ada konflik, perkelahian, kekerasan dan tindakan destruktif lainnya.

Ar-Rahim berarti kasih sayang Allah akan diberikan (ditambahkan) kepada orang-orang yang yakin dan mengakuiNya sebagai Tuhan Al-Khaliq (Pencipta), Al-Malik (Pemelihara) dan Ar-Razik (Pemberi Rezki). Pengakuan demikian akan dibarengi dengan kepatuhan, ketundukan dan ketaatan untuk menjalankan seluruh aturan atau ajaranNya sesuai dengan Kitab SuciNya sesuai dengan ajaran para RasulNya.

Sifat Ar-Rahim akan memberikan gambaran outcome utama dalam kehidupan manusia, yakni bahagia, berkelimpahan dan penuh keberkahan dalam kehidupan di dunia maupun kebahagiaan abadi di akhirat kelak (surga)! Dorongan atau motivasi seseorang akan semakin kuat dalam memanfaatkan setiap detik dan menit kehidupannya untuk beramal, beraktivitas yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya, bagi keluarganya dan lingkungannya. (berorientasi ekologis!)

WAW!!! ini baru pemaknaan dari ayat pertama: “Dengan menyebut Asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Bagaimana makna ayat-ayat selanjutnya dari Surat Al-Fatihkah ini??? Ikuti posting berikutnya …..! (Wallahu a’lam)



Koetjloek on August 31st, 2008 at 2:52 pm #

Pak Novel Yth. sungguh bagus uraiannya. bahwa sesungguhnya arti dari pelajaran NLP itu yang terpenting adalah mau dan butuh mengahayati setiap kalimat yang diucapkan ( baik secara lisan maupun dalam hati)dan mengerti akan apa2 yang diucapkan. jadi seandainya bertanyapun perlu disadari akan maksud dari pertanyaan itu sendiri sehingga paham apa yang akan ditanyakan. bukankah demikian. sehingga ketika berdialog pun sadar akan apa yang dilakukannya. seperti Rahman Rahim apakah sadar Manusia itu mempunyai Rahman Rahim yang luas seperti Sang Pencipta????, tetapi kenyataannya Rahman dan Rahim yang dipilih pilih. mana yang perlu dikasihini dan yang tidak. wajar bila Dunia jadi seperti ini. rupanya masih banyak yang melakukan Ritual meninggalkan Spiritnya.

Novel Latief on September 7th, 2008 at 2:46 pm #

Pak Koetjloek, saya hanya coba menuangkan yang muncul dalam pemikiran ketika membaca S. Al-Fatikhah. Pemahaman itulah yang kini saya coba tanamkan dalam subconsious dan saya coba terapkan dalam keseharian, meski masih butuh proses yang menerus untuk dapatkan maricelnya. Barangkali spirit untuk menuju kesempurnaan itulah yang menggerakkan setiap langkah dalam jalani kehidupan ini. Terima kasih atas komentarnya.

Fadhil.ZA on September 11th, 2008 at 7:54 am #

Pak Novel bagus sekali bahasannya. Saya sudah mencoba membaca alfatiha dan mentadabburi maknanya dihadapan sejumlah orang (jamaah pengajian). Ternyata hasilnya sungguh dahsyat. Makna alfatihah menghunjam menembus unconsius mind mereka. Diantara mereka ada yang histeris menangis. Kalau mau lihat rekamannya ada di blog saya. Sebagian besar ayat Qur’an kalau di tadabburi sangat berkesan pada para pendengarnya. Ayat Qur’an tertentu kalau dibaca berulang ulang juga dapat membentuk kepribadian tertentu pada orang yang membacanya.

rojikin on October 7th, 2008 at 9:00 am #

maha besar alloh, luar biasa dari tafsiran ini. jika setiap orang mampu menelaah yang demikian betul-betul alqur’an akan menjadi spirit kehidupan

Post a comment
Name: 
Email: 
URL: 
Comments: