Aug
01
    
Posted (Abdul Latief, Novel) in Umum on August-1-2008 (469 views)

If someone can do something, then it’s possible to me to do the same thing. Kalimat itulah yang sempat muncul dalam pikiranku ketika membaca tulisan pertama Pak Antony “Pengalaman Mempraktekkan NLP Dalam Kehidupan”. Kalau Pak Antony bisa lakukan penyembuhan (terapi) ala NLP, saya pun bisa lakukan itu. Apalagi dalam coaching NLP Practitioner lalu juga sudah di kasih model “Differensial-Integral Theraphy”nya Kang PuHong.

Kalimat presupposition pada awal tulisan ini saya baca dari buku “Understanding NLP”nya Pak Wiwoho. Dan saya coba maknai dalam bentuk penerapan terapi NLP pada tiga mahasiswi yang mengikuti kelas kuliahku. Berikut pengalamanku beberapa hari terakhir ini.

Setelah kuliah msdm selesai kuberikan, sejumlah mahasiswa masih duduk mendengarkan celotehku tentang tambahan “ngelmu penyembuhan” yang saya dapatkan dalam training NLP. Setelah meyakinkan mereka, saya pun tawarkan, siapa yang punya masalah dan mau diterapi? Seorang mahasiswi mengacungkan tangan dan kuminta untuk maju ke depan. Saya minta untuk duduk di kursi di depan kelas, saya pun mulai praktekkan terapi ala Kang Puhong dan Boss Ngapusi.

“Coba pilih dua masalah besar yang saat ini anda hadapi. Masalah yang berat di tangan kanan, yang lebih ringan di sebelah kiri. Saya akan bantu menyelesaikan masalah yang di tangan kiri.” kataku mengawali.
Gadis itu mengangguk.
“Sakarang coba bayangkan kembali kejadiannya ….” kataku sambil mengawasi raut mukanya, “Bayangkan kejadian yang mengakibatkan munculnya masalah yang anda hadapi”
Gadis itu mengangguk lagi.
“Apa yang anda rasakan???”
Matanya terlihat berkaca-kaca, “Sedih ….” katanya.
“Perasaan apa lagi yang muncul???”
Air matanya pun keluar membasahi pipinya. “Kesal ….” katanya.
“Perasaan apa lagi???”
Air matanya terus mengalir. Gadis itu coba menghapusnya dengan bagian bawah jilbabnya. “Ingin marah,..pak”
“Oke … oke ..! Coba ….rasa sedih, …. rasa kesal dan rasa ingin marah itu saya pinjam dulu.”
Dia memandangku.
“Ya …Rasa sedih, rasa kesal dan rasa marahnya itu saya pinjam.” kataku mengulang, “Saya ambil dulu ya …dan saya taruh di meja ini”
Saya memperagakan seolah-olah mengambil sesuatu dari hatinya dan meletakkannya di meja.
“Sekarang saya pinjami anda perasaan senang ….kedalam hati,”
Gadis itu menggeleng, tetapi agak lebih tenang.
“Apa yang ingin anda lakukan agar perasaan sedih, kesal dan marah itu bisa anda keluarkan,..”
Gadis itu menggeleng lagi.
“Oke … saya tambahkan rasa tenang ….. dan rasa bahagia”
Gadis itu mengangguk pelan.
“Apa yang anda rasakan sekarang??”
“Agak lebih lega pak,”
“Mau bisa lebih bahagia???” kataku, “Coba anda maafkan orang yang telah membuat masalah bagi anda itu..”
Gadis itu mengangguk. “Ya pak. Saya memang berusaha untuk bisa memaafkan dia.” katanya.
“Sekarang, beri maaf dia dengan tulus.”
Gadis itu mengangguk lagi.
“Bagaimana perasaan anda sekarang???”
“Ya …. lebih enakan, lebih lega.”
“Udah gak sedih dan kesal lagi??”
“Udah jauh berkurang dibanding tadi,”
“Bisa benar-benar dikeluarkan semua???”
“Ya, pak bisa”
“Sekarang bisa tersenyum???”
Gadis itu mengangguk dan tersenyum cerah.
“Coba … kalau perasaan sedih, kesal dan ingin marah yang saya pinjam tadi saya masukkan kembali ke dalam hati anda dan perasaan senang dan bahagia saya ambil gimana???”
“Jangan …pak. Sudah senang kok malah suruh bersedih lagi,” katanya sambil tersenyum dan sederet gigi putihnya terlihat.

Aha …, itulah praktek terapi yang saya coba lakukan.
Dan empat hari kemudian, ketika saya memberikan materi motivasi pada Kelas Khusus, dua mahasiswi juga siap menjadi “korban” berikutnya. Seorang mengaku saat ini, rasanya dia rindu banget untuk bisa bertemu dengan Allah, rasanya pingin secepatnya bertemu. Saya coba lakukan dialog dan dia mengakui, memang saat ini dia merasa gelisah, takut dan khawatir …. sehingga rasanya ingin lebih cepat aja bertemu dengan Allah. Saya coba bantu terapi dengan model yang sama. Dan saya kemudian tambahkan pemahaman, bahwa Allah sebenarnya memberikan kesempatan padanya untuk menikmati hidup ini dengan berbuat baik pada sesama, memberi apa yang bisa dia berikan, dan menolong dengan apa yang bisa dia lakukan. Mensyukuri karunia yang Allah telah berikan padanya. Allah memberi kesempatan untuk menyiapkan bekal yang lebih banyak ketika kelak harus bertemu denganNya. Bukan untuk saat ini. Gadis itu juga bisa menyingkirkan ketakutan dan kegelisahannya. Bisa lebih tenang dan tentram setelah saya lakukan terapi.

Sedangkan mahasiswi yang ketiga, mengaku merasa takut dan gelisah karena adanya tekanan yang dia sudah alami sejak masih kanak-kanak. Saya coba bantu terapi dengan cara yang sama dan lebih variatif. Akhir dari sesi terapi dia mengaku sudah bisa mengurangi ketakutan dan kegelisahannya. Itulah pengalamanku mempraktekkan NLP dalam seminggu terakhir ini.



The Steam Burner on August 1st, 2008 at 1:56 pm #

Al Ustaz Novel Yth. waduh apa bener tuh! ” Differential Intergral Theraphy” dapat digunakan untuk terapi?. padahal diDunia Theraphy istilah itu tidak ada. kok berani2nya menggunakan istilah yg belum diakui dan standarisasinya belum ada?. Lho! kok berhasil sih?, padahal dlm dunia NLP di negeri ini banyak yg bilang ” Jangan Belajar dari yg “BELUM BERSERTIFIKAT” dan belum diakui SERTIFIKAT nya.dan yg perlu diperhatikanbila Pak Antony mampu melakukan maka Pak Ustazpun dapat melakukannya dengan MODELING cara2nya Pak Antony. itu yg dimaksud tulisan anda diatas. bukannya BISA nanti MABOK!!! kepayang. obatnya puyer 4 sehat 5 sempurna. SELAMAT YA!!!! Maju Terus oleh PERLU dan BUTUH.

Novel Latief on August 2nd, 2008 at 11:08 am #

NLP ntu katanya ilmu terapan, jangan hanya dipikirin muluk. Kata pak Antony, eksplorasi dan eksploitasi ntu nlp. Ane dapat ilmu, ya ane terapin sebagai praktisi nlp. Kalo model Differential Integral Theraphy belum diakui, belum bersertifikat? Mana ane tahu?! Emang ane sendiri juga belum dapat sertifikat apapun ikut coaching Praktisi NLP. Belajar juga baru aja n belum banyak tahu. Kalo bisa ngebantu temen dan dia bisa terbantu, kagak tahu juga! Belajar itu emang ane pikir harus merasa KAGAK TAHU dulu, sehingga merasa PERLU dan BUTUH. Itu aja sih. Btw, atur nuhun komentarna Bang Burner.

Antony Ugiono, Michael on August 2nd, 2008 at 1:55 pm #

Maju terus pak Novel. Kalau Outcome nya dah jelas , ekologis dan congruent, nothing can stop us to strive. BUTUH.. pasti, PERLU… pasti. Eksplorasi dan Eksploitasi terus, minta bimbingan para mentor yang sudah bertahun tahun mempraktekkan. Temukan metode dan teknik yang paling sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Saya sendiri belajar TLT, Hypno, dan NLP tapi sekarang ini saya tidak strict to one method. Seringnya saya combine sehingga jadi sebuah method dan technique yang unik dan lebih efektif serta efisien dibanding hanya menggunakan satu method dan technique. Tentunya sebelumnya saya lakukan riset dulu Test Operate beberapa kali sampai evidence nya jelas, konsisten dan nyata. Beberapa waktu lalu mbak Emma dan saya mencoba sebuah ramuan baru bernama Sales Therapy. Riset kami lakukan dengan responden 70 orang dari 2 perusahaan. Sekarang masih tahap monitoring selama 3 bulan. Nanti kalau dah terbukti kelayakannya, akan kami publish deh hasilnya. Project eksperimen berikutnya adalah ……. eng ing eng ………. tunggu tanggal mainnya…. (Psstt bocoran dikit…. ada kaitannya dengan military, sudah ada 1 peleton khusus yang siap menjadi responden)

ridwan on August 4th, 2008 at 7:12 am #

wah.. hebat tuh pa novel eksplorasinya. saya baru gabung nih.. bisa ikut kongkow ?

Bruno on August 5th, 2008 at 10:02 am #

Weleh … weleh! Apa tuh Differential Integral Theraphy? Ekologis dan congruent, nothing can stop us to strive? Strict to one method? Combine method dan technique? Test Operate? Sales Therapy? Project eksperimen?

Pake bahasa Anjing aja …. Grrrrr …. Wouw …. Wouw!

Antony Bonbins on August 5th, 2008 at 10:18 am #

Welcome aboard pak Ridwan. Ini Pak Ridwan yang PADI Dive Instructor dari Bandung atau bukan yah?

Badan Pengawas NLP on August 5th, 2008 at 10:38 pm #

Kang PuHong itu Master Trainer NLP? Kalo iya Master Trainer NLP dari lembaga mana? Kok bisa ciptakan metode dan teknik NLP? Sudah diapproved belum sama founder NLP belum? NLP itu pake tm alias trademark, loh

Bruno on August 6th, 2008 at 7:55 am #

Founder itu tempat air yang besar untuk mencegah banjir?

TM itu Tulang Muda khan …. Enak …. Yam … yam … yamm…..

Grrrrr …. Wauw … Wauw!

John Rambo on August 6th, 2008 at 2:12 pm #

Hiiii ada Badan Pengawas NLP ……… Wah mau ngga mau harus somse nih cantumin embel embel Master Trainer NLP, Nama Lembaga yang mensertifikasi,.. padahal Banyak beeng yang Certified Trainer maupun Master trainer yang tidak masang embel embelnya di belakang namanya. Banyak beeng Certified Trainer atau pun Practitioner yang masang embel embel di belakang namanya tapi kehidupan pribadinya berantakan dan ngga merepleksikan seorang yang menerapkan NLP. Ayo rame rame buka KTP, pajang semua sertifikasi yang dipunyai, entar dipertanyakan lhooo sama Badan Pengawas NLP…. Peringatan : Segera scan semua sertifikat anda (tidak terkecuali sertifikat tanah dan sertifikat asuransi anda) dan segera pajang di website atau blog anda sebelum anda dipertanyakan. “Tanyalah sebelum anda dipertanyakan”

marsi on August 6th, 2008 at 2:25 pm #

waduh menarik juga therapi bapak ustad tadi,menurut saya memang betul semua masalah yg kita hadapi trletak pada keiklasan hati apakah menerima atau tidak masalah tsb, bila menerima maka hatiakan memaafkan dan hati akan tenang….

Bang Rommy on August 22nd, 2008 at 8:07 pm #

To : badan pengawas NLP.., Anda sendiri dah approved badan pengawas NLP dari mane..??…kekekekekkeke;

To : Bang Novel…; kapan2 ane di terapi ye..??..

Salam,
Bang Rommy

Post a comment
Name: 
Email: 
URL: 
Comments: