If someone can do something, then it’s possible to me to do the same thing. Kalimat itulah yang sempat muncul dalam pikiranku ketika membaca tulisan pertama Pak Antony “Pengalaman Mempraktekkan NLP Dalam Kehidupanâ€. Kalau Pak Antony bisa lakukan penyembuhan (terapi) ala NLP, saya pun bisa lakukan itu. Apalagi dalam coaching NLP Practitioner lalu juga sudah di kasih model “Differensial-Integral Theraphyâ€nya Kang PuHong.
Kalimat presupposition pada awal tulisan ini saya baca dari buku “Understanding NLPâ€nya Pak Wiwoho. Dan saya coba maknai dalam bentuk penerapan terapi NLP pada tiga mahasiswi yang mengikuti kelas kuliahku. Berikut pengalamanku beberapa hari terakhir ini.
Setelah kuliah msdm selesai kuberikan, sejumlah mahasiswa masih duduk mendengarkan celotehku tentang tambahan “ngelmu penyembuhan†yang saya dapatkan dalam training NLP. Setelah meyakinkan mereka, saya pun tawarkan, siapa yang punya masalah dan mau diterapi? Seorang mahasiswi mengacungkan tangan dan kuminta untuk maju ke depan. Saya minta untuk duduk di kursi di depan kelas, saya pun mulai praktekkan terapi ala Kang Puhong dan Boss Ngapusi.
“Coba pilih dua masalah besar yang saat ini anda hadapi. Masalah yang berat di tangan kanan, yang lebih ringan di sebelah kiri. Saya akan bantu menyelesaikan masalah yang di tangan kiri.†kataku mengawali.
Gadis itu mengangguk.
“Sakarang coba bayangkan kembali kejadiannya ….†kataku sambil mengawasi raut mukanya, “Bayangkan kejadian yang mengakibatkan munculnya masalah yang anda hadapiâ€
Gadis itu mengangguk lagi.
“Apa yang anda rasakan???â€
Matanya terlihat berkaca-kaca, “Sedih ….†katanya.
“Perasaan apa lagi yang muncul???â€
Air matanya pun keluar membasahi pipinya. “Kesal ….†katanya.
“Perasaan apa lagi???â€
Air matanya terus mengalir. Gadis itu coba menghapusnya dengan bagian bawah jilbabnya. “Ingin marah,..pakâ€
“Oke … oke ..! Coba ….rasa sedih, …. rasa kesal dan rasa ingin marah itu saya pinjam dulu.â€
Dia memandangku.
“Ya …Rasa sedih, rasa kesal dan rasa marahnya itu saya pinjam.†kataku mengulang, “Saya ambil dulu ya …dan saya taruh di meja iniâ€
Saya memperagakan seolah-olah mengambil sesuatu dari hatinya dan meletakkannya di meja.
“Sekarang saya pinjami anda perasaan senang ….kedalam hati,â€
Gadis itu menggeleng, tetapi agak lebih tenang.
“Apa yang ingin anda lakukan agar perasaan sedih, kesal dan marah itu bisa anda keluarkan,..â€
Gadis itu menggeleng lagi.
“Oke … saya tambahkan rasa tenang ….. dan rasa bahagiaâ€
Gadis itu mengangguk pelan.
“Apa yang anda rasakan sekarang??â€
“Agak lebih lega pak,â€
“Mau bisa lebih bahagia???†kataku, “Coba anda maafkan orang yang telah membuat masalah bagi anda itu..â€
Gadis itu mengangguk. “Ya pak. Saya memang berusaha untuk bisa memaafkan dia.†katanya.
“Sekarang, beri maaf dia dengan tulus.â€
Gadis itu mengangguk lagi.
“Bagaimana perasaan anda sekarang???â€
“Ya …. lebih enakan, lebih lega.â€
“Udah gak sedih dan kesal lagi??â€
“Udah jauh berkurang dibanding tadi,â€
“Bisa benar-benar dikeluarkan semua???â€
“Ya, pak bisaâ€
“Sekarang bisa tersenyum???â€
Gadis itu mengangguk dan tersenyum cerah.
“Coba … kalau perasaan sedih, kesal dan ingin marah yang saya pinjam tadi saya masukkan kembali ke dalam hati anda dan perasaan senang dan bahagia saya ambil gimana???â€
“Jangan …pak. Sudah senang kok malah suruh bersedih lagi,†katanya sambil tersenyum dan sederet gigi putihnya terlihat.
Aha …, itulah praktek terapi yang saya coba lakukan.
Dan empat hari kemudian, ketika saya memberikan materi motivasi pada Kelas Khusus, dua mahasiswi juga siap menjadi “korban†berikutnya. Seorang mengaku saat ini, rasanya dia rindu banget untuk bisa bertemu dengan Allah, rasanya pingin secepatnya bertemu. Saya coba lakukan dialog dan dia mengakui, memang saat ini dia merasa gelisah, takut dan khawatir …. sehingga rasanya ingin lebih cepat aja bertemu dengan Allah. Saya coba bantu terapi dengan model yang sama. Dan saya kemudian tambahkan pemahaman, bahwa Allah sebenarnya memberikan kesempatan padanya untuk menikmati hidup ini dengan berbuat baik pada sesama, memberi apa yang bisa dia berikan, dan menolong dengan apa yang bisa dia lakukan. Mensyukuri karunia yang Allah telah berikan padanya. Allah memberi kesempatan untuk menyiapkan bekal yang lebih banyak ketika kelak harus bertemu denganNya. Bukan untuk saat ini. Gadis itu juga bisa menyingkirkan ketakutan dan kegelisahannya. Bisa lebih tenang dan tentram setelah saya lakukan terapi.
Sedangkan mahasiswi yang ketiga, mengaku merasa takut dan gelisah karena adanya tekanan yang dia sudah alami sejak masih kanak-kanak. Saya coba bantu terapi dengan cara yang sama dan lebih variatif. Akhir dari sesi terapi dia mengaku sudah bisa mengurangi ketakutan dan kegelisahannya. Itulah pengalamanku mempraktekkan NLP dalam seminggu terakhir ini.
