Jul
21
    
Posted (Agus Setyadi) in Umum on July-21-2008 (383 views)

Kegiatan Tukar Tambah biasanya saya jumpai di dalam transaksi jual beli terhadap sebuah barang yang pembayarannya tidak sepenuhnya dengan uang tunai, akan tetapi ada pertukaran nilai dari barang lain untuk melengkapi harga pembayarannya. Ada yang bilang istilahnya Trade In.

Selama mengikuti A Practicing NLP Practitioner yang diadakan oleh Romo N’Dobosi dan Mr. Tjia selama enam hari membuat saya panas dingin layaknya seorang bayi yang baru saja di-imunisasi Campak. Bagaimana tidak? Penyelenggara acara terkesan “asal-asalan” bicara ngalor-ngidul seperti tanpa konsep, ruang yang kecil, sempit karena pesertanya juga lumayan banyak, dan banyak lagi yang lainnya. Romo juga membuat pasal-pasal sebagai peraturan yang “harus dan wajib” di-taati oleh peserta, bunyi peraturannya adalah “TIDAK ADA ATURAN”. Bebas tapi bertanggung jawab mungkin itu maksudnya, sampai-sampai Pak Bos Ngapusi dan Kang PuHong yang “nguping” di ruang sebelah suka “kegatelan” memberikan tambahan penjelasan bila dianggap perlu (alias : “NYEROBOT”) untuk menambahkan penjelasan Romo N’Dobosi. Terkadang saya jadi bingung…ini siapa sih yang sebenarnya “ngasih” materi???

Saya terkesan dengan salah satu kegiatan praktek (diwakili oleh seorang peserta), yaitu bagaimana “Rasa” (Sedih, Susah, Maaf, Bertanggung Jawab, dlsb) yang ada di dalam dirinya “Diambil” kemudian “Ditukar” dengan rasa yang lainnya, kayak orang melakukan transaksi jual beli! Cocok ambil tidak cocok buang, terus diulang-ulang sampai sepakat dengan barang “rasa” yang di-inginkan. Saya melihat ini efektif untuk membantu mengurangi masalah dalam diri seseorang, misalnya Stress, trauma, dlsb.

Melihat praktek tersebut yang saya anggap “gampang”, mulailah saya “keracunan” metode dan teknik itu. Mulailah punya niat untuk mempraktekkannya. Selama enam hari itu, sebelum kelas dibuka pada pukul 12.00, di kantor saya nyari-nyari “pasien” yang akan saya “kerja-in”.
SALAH “TAMBAH”.

Dasarnya saya yang masih ”I J O”, alias belum layak praktek…nekat!…dan akhirnya kejeblos dengan transaksi tukar tambah, yang tambahan “rasa”nya tidak tepat (salah trade in).
Begini ceritanya, setelah coba sana coba sini, membual kesana kemari, akhirnya saya (SY) menemukan seorang rekan kerja (RK/seorang cewek) yang sedang bermasalah dengan pacarnya. Tanpa ingin mendengarkan ceritanya lebih jauh, saya mulai bertanya :

SY : “Apa yang kamu rasakan, akibat kesalahan yang kamu lakukan terhadap pacar-mu itu?”

RK : “Ya. Sedih pak….nyesel banget, saya kepikiran dengan rasa bersalah pak, karena ini kali kedua saya menyakiti pacar saya pak! (dia meneteskan air mata).

SY :”Ooooo….” (sok tahu). Kamu mau dilhilangkan rasa yang mengganggu kamu itu? (mulai saya pasang jurus).

RK :”Iya..pak, tapi gimana caranya? Saya sudah coba nge-lupa-in masalah ini tapi nggak bisa pak. (tertunduk kepala, sambil meneteskan air mata).
(Singkat cerita)

SY :”Boleh nggak saya pinjam “rasa” bersalah kamu, trus akan saya tukar dengan “rasa” Ikhlas. Kata apa yang muncul dalam diri kamu?” (gayanya dimirip-mirip-in kayak Bos Ngapusi dan Kang PuHong)

RK :“Apa ya …pak?,(dia menerawang…) Oh..ini pak, saya agak lega rasanya…kalo mengingat masalah itu lagi”.

SY :”Ah! Yang bener nih”.

(Mulai lah saya tukar-tukar “rasa bersalah” dengan “rasa ikhlas” secara berulang-ulang, sampai dia seperti merasakan “BUTUH” rasa ikhlas dan “TDAK BUTUH” rasa bersalah yang selalu di pegangnya sampai saat ini. Sampai dia keberatan kalo rasa ikhlasnya saya ambil!)….sukses nih (saya merasa senang).

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB, segera saya menutup perbincangan itu (karena akan ke tempat coaching) sambil memastikan kondisi rekan kerja saya apakah dia benar-benar sudah bisa merasakan dirinya lebih baik lagi. Dalam perjalanan ke tempat training, saya masih mengingat-ingat proses “ngerjain” rekan saya tadi…..Kontan saya kaget bukan kepalang!!!, saya sadar seketika itu…ternyata saya SALAH TUKAR TAMBAH!, dalam hati saya berkata dengan penuh keheranan .”Masa’ rasa bersalah saya tukar dengan rasa ikhlas….wah…ini salah nich…kenapa nggak saya tukar dengan RASA MAAF.” Wah…punya PR nih besok.”. Niat saya besok akan ketemu rekan saya untuk mengadakan “transaksi” ulang, yaitu : Tukar Tambah antara Rasa Bersalah dengan Rasa Maaf.

Iseng punya iseng, ulah saya itu saya ceritaan ke Bos Ngapusi, Kang Puhong, Romo dan Mr. Tjia. Kontan beliau-beliau cekikikan “qiqiqiqiqiqiq…..wah kamu lucu banget, masa’ rasa bersalah kamu tukar dengan rasa ikhlas, Bro! “ kata ROMO sambil “Hua..ha..ha..hua..ha..ha..”3x. Bos Ngapusi, ngomong. “ Ya udah nggak apa-apa, walau kata itu kurang pas…tapi bisa kok mengurangi bahkan menghilangkan rasa bersalahnya, tapi memakan proses yang agak lama!” (he..he..he..ada yang nulung-in saya).

Esok hari, saya menemui rekan kerja saya itu, kemudian proses diulang lagi sampai selesai. Terima Kasih Tuhan, rekan saya sekarang sudah baikan dengan pacarnya dan pacarnya tidak marah bahkan makin sayang kepada rekan kerja saya itu, semoga mereka berjodoh. Amin.

Inilah “Racun” yang saya dapatkan di coaching Luar Biasa N’Dobosi, Terima Kasih saya sampaikan untuk Para Guru. Semoga Amal Ibadah Para Guru mendapat Ridho Tuhan Yang Maa Kuasa. Amin.



Michael Antony on July 21st, 2008 at 4:57 pm #

Wah Mas Agus sekarang sudah jadi pedagang kata – kata atau mungkin lebih tepatnya makelar kata kata, mau nyaingin JOGER di Bali yang pabrik kata kata ya mas… hihihihiihi……… sukses mas. Ilmu jadi berguna dan bermanfaat kalau kita amalkan.

Tjia Irawan on July 21st, 2008 at 8:15 pm #

selamat mas agus… jadi sebenarnya kata – kata bukan 7% kan ? ha ha ha

Agus Setyadi on July 22nd, 2008 at 6:34 am #

Iya nih…mudah-mudahan Tuhan mengizinkan, kedepan saya berniat membuka Dealer Tukar Tambah Kata…apa Bapak-bapak mau terima second-nya…he 5x

aan on July 23rd, 2008 at 2:28 pm #

NLP.. cara membuat orang melupakan masa lalu yang menyedihkan gimana ya…?
bisa ga pake nlp
ada orang yg suka mengingat2 masa lalunya selama 20 tahun yg lalu… dia suka tambah marah kalo ingat masa lalu pernah disakitin…

The Rapist on July 24th, 2008 at 9:06 am #

To : aan
NLP ngga bisa buat orang ngelupain masa lalunya. Lha masa lalu itu juga penting sebagai referensi belajar kok.

NLP dalam aplikasi therapy hanya membantu orang tersebut untuk me reframe agar orang tersebut keluar dari kotaknya sebagai korban / object, kemudian melangkah masuk ke kotak Pelaku / Subject dan mengambil tanggung jawab atas kehidupannya. Itu pun dengan catatan khusus, kalau orang itu mau.

Agus Setyadi on July 29th, 2008 at 10:49 am #

Makasih atas bantuan The Rapist atas jawaban kepada Pak Aan.

Post a comment
Name: 
Email: 
URL: 
Comments: