Jul
21
    
Posted (Miko Andana) in Umum on July-21-2008 (367 views)
Petang itu, anak kami Tiara (usia 3 th) asyik bermain dengan Dian (usia 5 th) seorang
gadis kecil anak tetangga belakang rumah. Hmm … asyik sekali mereka main berdua.
 
Di tengah keasyikan bermain tersebut, tiba-tiba Dian berkata:
“Dik Tia, aku mau pulang !”
Dan segera saja nyelonong pulang ke rumah orang tuanya.
 
Tinggallah Tiara bengong, kecewa, dan raut mukanya menandakan akan segera
menangis. Tapi … oo … ternyata anak itu nggak jadi menangis.
Malah mendekati bundanya dan berkata dengan nada keras :
“Bunda aku mau sandal seperti punya mbak Dian!”
“Ya besuk dibelikan ayah !” kata bundanya.
“Nggak mau … aku mau sekarang !”, rengek Tiara.
 
Dan tanpa pemanasan lagi, bunda segera mengeluarkan segala macam ilmu dan
jurus untuk menangkal permintaan anak yang lagi kecewa tersebut. Dari jurus
“dibelikan besuk” sampai iming-iming segala macam makanan yang sangat
disukai si kecil Tiara.
 
Beberapa saat sepertinya anak itu tertarik dengan jurus bundanya.
Tetapi sesaat kemudian, segera ingat kembali akan misi semula:
 
“Aku mau sandal seperti mbak Dian sekarang !”.
 
“Sana bilang ayah!”, kata bunda yang mulai putus asa membujuk.
 
Tiara kemudian mendatangi saya yang lagi asyik baca buku.
“Ayah, aku mau sandal seperti mbak Dian, sekarang !”
 
Saya pura-pura kaget dan menjawab, ” Haaah … apa?”
Tiara kelihatan kaget dan mengulangi permintaannya.
“Ayah, aku mau sandal seperti mbak Dian !”, katanya lagi.
 
“Haah … apa?”, jawab saya, tapi sekarang disertai mulut yang dimonyongkan
dan mimik dibikin se-lucu mungkin.
 
“Hi hi hi …” wajah anakku itu sekarang berubah cerah, kemudian dia
ulangi lagi permintaanya:
“Ayah, aku mau sandal seperti mbak Dian !”
 
Sambil berseru “Haaah …”, (dengan memasang mimik lucu) saya segera berlari
masuk kamar. Sambil ketawa-tawa, Tiara ikut berlari masuk kamar.
 
Sampai di kamar, saya tunjuk ke lantai (yang nggak ada apa-apanya)
sambil berkata : “Haah … ini kok ada sandal mbak Dian disini!”.
 
Saya coba lirik, raut wajah Tiara seperti ada sedikit bingung, lalu saya lanjutkan :
“Dipakai ayah … ah … sandalnya”, sambil saya membuat gerakan seakan-
akan memakai sandal, dan berjalan-jalan bak peragawan dengan sandal baru.
Tiara jadi ketawa-tawa melihat tingkah ayahnya yang ngaco.
 
“Nih sekarang coba adik Tia pakai sandal mbak Dian ini”, kataku.
 
Dan apa jawaban Tiara ? Ternyata diluar dugaan:
“Nggak mau Yah, aku mau pakai sepatu-kaca-ku sendiri saja!”
 
Ho ho ho ….
Dari jawaban terakhir anakku itu, aku jadi tercenung
Kok bisa ya, tiba-tiba anak itu melupakan keinginan yang tadinya begitu gigih dipertahankan ?
Kok bisa ya, tiba-tiba secara spontan saya lakukan kokonyolan seperti  itu ?
Tapi ….
Kok bisa ya, hasilnya sangat mencengangkan seperti itu ?
Au ah … gelap !
 
Aha ….
Jangan-jangan itu yang namanya NLP (Diferensial-Integral Theraphy ala kang Pupung SB !)
…. entahlah.
 
Salam,
Andana


Michael Antony on July 21st, 2008 at 5:00 pm #

Itu “Ilmu Ndobosi” pak… wakakakakakaka……..

Agus Setyadi on July 22nd, 2008 at 6:54 am #

Selamat berkarya, gali terus sampai dalam…kalo sudah dalam nanti turunnya pakai tangga…he 5x, selamat.

Michael Antony on July 22nd, 2008 at 12:19 pm #

Ternyata…….. manusia memang perlu di dobosi biar maju yaaa……… pantesan pada berani menyandang nama “Bos Ngapusi”, “Romo Ndobosi” dan “Kang PUHONG” padahal kalau orang normal di label demikian pasti sudah ngomel ngomel dan menyanggah dengan berbagai macam pembenaran – pembenaran. Ternyataaaa…. oh sekali lagi ternyataaaaa…..

pupung SB on July 22nd, 2008 at 5:44 pm #

Om Nanda, kuwi jenenge elmu jaran guyang, roh ngorohi sijaran kepang, udu ngorohi jaran kepang, ling weling ulone sadrah, roh ngorohi ngelingono bocah…… eling kekarepane bubrah. iwak lemuru panganane karo lombok ijo,ne bojo rodo cemburu tandane setiyo

pupung SB on July 22nd, 2008 at 8:20 pm #

iku jenenge elmu jaran guyang, ngorohi bocah,mben ra mekso Ibu Bapake, nukuke sandal. mangkane iwaklemuru dipangane karo lombok ijo, ne duwe bojo cemburu, mbok yo sinau yo mas yo.lan ojo ngantung cito dilangit ora iso tekan sabab Apolone agek tekan bulan.

Bruno on July 23rd, 2008 at 2:59 pm #

Ini penerapan ilmu Terapi yang paling sempurna ala The Rapist … Sikat … Minggat!

Post a comment
Name: 
Email: 
URL: 
Comments: