gadis kecil anak tetangga belakang rumah. Hmm … asyik sekali mereka main berdua.
Â
Di tengah keasyikan bermain tersebut, tiba-tiba Dian berkata:
“Dik Tia, aku mau pulang !”
Dan segera saja nyelonong pulang ke rumah orang tuanya.
Â
Tinggallah Tiara bengong, kecewa, dan raut mukanya menandakan akan segera
menangis. Tapi … oo … ternyata anak itu nggak jadi menangis.
Malah mendekati bundanya dan berkata dengan nada keras :
“Bunda aku mau sandal seperti punya mbak Dian!”
“Ya besuk dibelikan ayah !” kata bundanya.
“Nggak mau … aku mau sekarang !”, rengek Tiara.
Â
Dan tanpa pemanasan lagi, bunda segera mengeluarkan segala macam ilmu dan
jurus untuk menangkal permintaan anak yang lagi kecewa tersebut. Dari jurus
“dibelikan besuk” sampai iming-iming segala macam makanan yang sangat
disukai si kecil Tiara.
Â
Beberapa saat sepertinya anak itu tertarik dengan jurus bundanya.
Tetapi sesaat kemudian, segera ingat kembali akan misi semula:
Â
“Aku mau sandal seperti mbak Dian sekarang !”.
Â
“Sana bilang ayah!”, kata bunda yang mulai putus asa membujuk.
Â
Tiara kemudian mendatangi saya yang lagi asyik baca buku.
“Ayah, aku mau sandal seperti mbak Dian, sekarang !”
Â
Saya pura-pura kaget dan menjawab, ” Haaah … apa?”
Tiara kelihatan kaget dan mengulangi permintaannya.
“Ayah, aku mau sandal seperti mbak Dian !”, katanya lagi.
Â
“Haah … apa?”, jawab saya, tapi sekarang disertai mulut yang dimonyongkan
dan mimik dibikin se-lucu mungkin.
Â
“Hi hi hi …” wajah anakku itu sekarang berubah cerah, kemudian dia
ulangi lagi permintaanya:
“Ayah, aku mau sandal seperti mbak Dian !”
Â
Sambil berseru “Haaah …”, (dengan memasang mimik lucu) saya segera berlari
masuk kamar. Sambil ketawa-tawa, Tiara ikut berlari masuk kamar.
Â
Sampai di kamar, saya tunjuk ke lantai (yang nggak ada apa-apanya)
sambil berkata : “Haah … ini kok ada sandal mbak Dian disini!”.
Â
Saya coba lirik, raut wajah Tiara seperti ada sedikit bingung, lalu saya lanjutkan :
“Dipakai ayah … ah … sandalnya”, sambil saya membuat gerakan seakan-
akan memakai sandal, dan berjalan-jalan bak peragawan dengan sandal baru.
Tiara jadi ketawa-tawa melihat tingkah ayahnya yang ngaco.
Â
“Nih sekarang coba adik Tia pakai sandal mbak Dian ini”, kataku.
Â
Dan apa jawaban Tiara ? Ternyata diluar dugaan:
“Nggak mau Yah, aku mau pakai sepatu-kaca-ku sendiri saja!”
Â
Ho ho ho ….
Dari jawaban terakhir anakku itu, aku jadi tercenung
Kok bisa ya, tiba-tiba anak itu melupakan keinginan yang tadinya begitu gigih dipertahankan ?
Kok bisa ya, tiba-tiba secara spontan saya lakukan kokonyolan seperti itu ?
Tapi ….
Kok bisa ya, hasilnya sangat mencengangkan seperti itu ?
Au ah … gelap !
Â
Aha ….
Jangan-jangan itu yang namanya NLP (Diferensial-Integral Theraphy ala kang Pupung SB !)
…. entahlah.
Â
Salam,
Andana
