Saya peserta A Practicing NLP Practitioner Dynamic Coaching angkatan I. Sebelumnya saya belum pernah mengikuti Training atau Sertifikasi NLP. Namun saya sudah membaca baca tentang NLP dari buku buku dan dari internet. Kebanyakan literature yang saya baca adalah tentang metode dan teknik. Aplikasi NLP dalam kehidupan baru saya ketahui sedikit dari mencoba mengaplikasikan apa apa yang saya pelajari dari membaca baca literature. Ketika saya melihat penawaran tentang A Practicing NLP Practitioner yang ditawarkan lewat milis TCI oleh Pak Okky Sulistijo dan Pak Tjia Irawan, saya tertarik dan mengikutinya.
Pertama saya berharap akan lebih mengerti tentaang aplikasi NLP dalam kehidupan, lha judulnya saja A Practicing NLP Practitioner Dynamic Coaching. Tentunya yang akan di bahas adalah tentang prakteknya.
Namun ketika saya mengikuti acara tersebut, di hari pertama saya jadi bingung karena memang yang disampaikan sepertinya nggak nyambung sama metode dan teknik NLP yang pernah saya pelajari. Bicaranya ngalor ngidul nggak karu-karuan, saya berusaha mencari benang merah dari apa yang disampaikan oleh Para Coach di situ dengan metode dan teknik NLP yang pernah saya baca. Hasilnya saya tambah pusing.
Namun seiring jalannya waktu saya akhirnya menemukan pencerahan-pencerahan dengan cara saya banyak bertanya. Saya jadi ingat , namanya aja Dynamic Coaching, peserta juga harus aktif bertanya dong. Jadi bener-bener Dynamic. Kalau kita berharap suasananya seperti kelas-kelas training di mana kita duduk dan kemudian mendengarkan dongeng si Trainer, wah salah besar. Kalau kita berharap ditunjukkan metode dan teknik step by step seperti ruang kelas kuliah, wah ini juga salah besar. Kita sebagai peserta harus aktif juga bertanya, mungkin dengan kasus-kasus atau peristiwa peristiwa yang pernah kita alami atau lakukan. Ini baru ketemu Dynamic-nya. Namanya juga A Practicing NLP Practitioner, tentunya yang dipelajari dari praktek dan praktek yaitu lewat kasus-kasus atau kejadian kejadian nyata, pengalaman empiris.
Setelah saya merubah mindset saya dari seorang murid yang nunggu di beri oleh sang guru menjadi seorang pembelajar yang aktif menggali pembelajaran untuk mendapatkan pelajaran yang saya butuhkan (artinya saya berusaha memberi diri saya pelajaran-pelajaran yang saya butuhkan, bukan nunggu diberi oleh sang guru) barulah saya bisa mengikuti dengan antusias dan mendapat banyak sekali manfaat dan pencerahan-pencerahan tentang bagaimana menerapkan NLP dalam kehidupan nyata sehingga NLP itu bisa memberi manfaat bagi kehidupan kita.
Sepulang dari mengikuti Coaching tersebut dipikiran saya sudah tersusun strategy dan rencana yang akan saya gunakan untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi NLP untuk kehidupan saya.
Sungguh beruntung, ditengah pelaksanaan coaching di Semarang itu, para coach memberi kesempatan kesempatan diskusi dan praktek yang luar biasa banyak, bahkan malam harinya di hotel tempat menginap para coach itupun saya masih diberi kesempatan diskusi dan praktek. Termasuk bagaimana menggunakan NLP untuk therapy.
Kebetulan waktu di Semarang itu ada seorang teman saya yang berkunjung di Hotel tempat saya menginap, ternyata dia sedang mengalami konflik dalam dirinya. Saya pun mulai mempraktekkan NLP pada teman saya, dan hasilnya teman saya itu bisa terbantu dan sadar untuk kembali ke jalan yang benar.
Trus ketika saya sudah kembali ke Jogja, ada seorang saudaranya teman juga mengalami Depressi berat, kebetulan teman saya mengantarkan saudaranya ke saya. Mulai lagi saya praktekkan NLP untuk Therapy. Hasilnya Saudara teman saya itu bisa sembuh dari Depressinya dan berhasil bangkit motivasinya untuk bertanggung jawab pada kehidupannya dan berusaha memberikan yang terbaik untuk kehidupannya.
Beberapa minggu lalu saya juga mentherapy bapaknya teman saya yang menderita penyakit yang gejalanya seperti Parkinson. Namun dari hasil Test Lab, semua normal termasuk hasil CT Scan dan MRI otak. Dokter tidak menemukan penyakitnya. Setelah saya therapy dalam 2 kali pertemuan, hasilnya bapak teman saya itu sembuh. Ternyata sakitnya karena rasa bersalah dan konflik diri yang cukup lama dia simpan.
Beberapa hari lalu ada teman yang menderita sakit kepala seperti ditusuk tusuk paku dan matanya mengalami rabun, penglihatannya kabur. Badannya lemas. Sudah ke dokter beberapa kali namun dokter bilang penyakitnya sebagai penyakit aneh dan hasil test Lab juga normal semuanya. Setelah bertemu saya, NLP pun saya praktekkan. Hasilnya setelah 1 jam therapy, teman saya itu penglihatannya kembali normal, kepalanya sudah tidak sakit, dan sudah bisa cengengesan. Ternyata sakitnya karena rasa ketakutan dan penyesalan diri yang dalam.
Namun yang lebih luar biasa lagi, saya jadi lebih kenal diri saya, skill saya dan apa yang benar-benar saya butuhkan dalam kehidupan saya serta saya jadi tahu dan bisa bagaimana menyusun strategy dan bagaimana melakukan aksi secara sistematis untuk meraih outcome-outcome yang ingin saya capai.
Hari minggu tanggal 20 Juli 2008 kemaren saya memberikan sessi Coaching Motivasi dan Attitude untuk sebuah perusahaan Farmasi besar. Saya jadi mampu menyusun materi materi pembelajaran yang lebih jelas dan aplikatif serta mampu menyampaikannya dengan sangat efektif dan efisien. Waktu itu saya berkolaborasi dengan Mbak Ermalia Normalita yang juga peserta A Practicing NLP Practitioner Dynamic Coaching Angkatan I.
Dari Coaching yang saya ikuti itu saya jadi benar benar mengerti bagaimana menerapkan NLP sehingga menjadi sebuah manfaat bagi kehidupan saya. Bukan Cuma belajar metode dan teknik thok yang selama ini saya bingung menerapkannya.
Kalau ada kesempatan untuk ikutan Dynamic Coaching A Practicing NLP Practitioner, buruan deh ikutan. Kagak bakalan rugi deh. Saya berani bilang bahwa investasi 350 EUR itu sangat murah, ngga sebanding dengan manfaat yang kita dapatkan untuk kehidupan kita. Kalau ngitung materi, saya yang baru bulan kemaren ikutan coaching saja sudah mendapatkan lebih dari 350 EUR dengan mempraktekkan apa yang saya dapat dari Coaching. Bener-bener Top Abissssssss…… terimakasih buat para coach yang sudah memberikan banyak pencerahan pada saya.
