Jul
21
    
Posted (Antony Ugiono, Michael) in Umum on July-21-2008 (1,035 views)

Saya peserta A Practicing NLP Practitioner Dynamic Coaching angkatan I. Sebelumnya saya belum pernah mengikuti Training atau Sertifikasi NLP. Namun saya sudah membaca baca tentang NLP dari buku buku dan dari internet. Kebanyakan literature yang saya baca adalah tentang metode dan teknik. Aplikasi NLP dalam kehidupan baru saya ketahui sedikit dari mencoba mengaplikasikan apa apa yang saya pelajari dari membaca baca literature. Ketika saya melihat penawaran tentang A Practicing NLP Practitioner yang ditawarkan lewat milis TCI oleh Pak Okky Sulistijo dan Pak Tjia Irawan, saya tertarik dan mengikutinya.

Pertama saya berharap akan lebih mengerti tentaang aplikasi NLP dalam kehidupan, lha judulnya saja A Practicing NLP Practitioner Dynamic Coaching. Tentunya yang akan di bahas adalah tentang prakteknya.
Namun ketika saya mengikuti acara tersebut, di hari pertama saya jadi bingung karena memang yang disampaikan sepertinya nggak nyambung sama metode dan teknik NLP yang pernah saya pelajari. Bicaranya ngalor ngidul nggak karu-karuan, saya berusaha mencari benang merah dari apa yang disampaikan oleh Para Coach di situ dengan metode dan teknik NLP yang pernah saya baca. Hasilnya saya tambah pusing.

Namun seiring jalannya waktu saya akhirnya menemukan pencerahan-pencerahan dengan cara saya banyak bertanya. Saya jadi ingat , namanya aja Dynamic Coaching, peserta juga harus aktif bertanya dong. Jadi bener-bener Dynamic. Kalau kita berharap suasananya seperti kelas-kelas training di mana kita duduk dan kemudian mendengarkan dongeng si Trainer, wah salah besar. Kalau kita berharap ditunjukkan metode dan teknik step by step seperti ruang kelas kuliah, wah ini juga salah besar. Kita sebagai peserta harus aktif juga bertanya, mungkin dengan kasus-kasus atau peristiwa peristiwa yang pernah kita alami atau lakukan. Ini baru ketemu Dynamic-nya. Namanya juga A Practicing NLP Practitioner, tentunya yang dipelajari dari praktek dan praktek yaitu lewat kasus-kasus atau kejadian kejadian nyata, pengalaman empiris.

Setelah saya merubah mindset saya dari seorang murid yang nunggu di beri oleh sang guru menjadi seorang pembelajar yang aktif menggali pembelajaran untuk mendapatkan pelajaran yang saya butuhkan (artinya saya berusaha memberi diri saya pelajaran-pelajaran yang saya butuhkan, bukan nunggu diberi oleh sang guru) barulah saya bisa mengikuti dengan antusias dan mendapat banyak sekali manfaat dan pencerahan-pencerahan tentang bagaimana menerapkan NLP dalam kehidupan nyata sehingga NLP itu bisa memberi manfaat bagi kehidupan kita.

Sepulang dari mengikuti Coaching tersebut dipikiran saya sudah tersusun strategy dan rencana yang akan saya gunakan untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi NLP untuk kehidupan saya.
Sungguh beruntung, ditengah pelaksanaan coaching di Semarang itu, para coach memberi kesempatan kesempatan diskusi dan praktek yang luar biasa banyak, bahkan malam harinya di hotel tempat menginap para coach itupun saya masih diberi kesempatan diskusi dan praktek. Termasuk bagaimana menggunakan NLP untuk therapy.

Kebetulan waktu di Semarang itu ada seorang teman saya yang berkunjung di Hotel tempat saya menginap, ternyata dia sedang mengalami konflik dalam dirinya. Saya pun mulai mempraktekkan NLP pada teman saya, dan hasilnya teman saya itu bisa terbantu dan sadar untuk kembali ke jalan yang benar.

Trus ketika saya sudah kembali ke Jogja, ada seorang saudaranya teman juga mengalami Depressi berat, kebetulan teman saya mengantarkan saudaranya ke saya. Mulai lagi saya praktekkan NLP untuk Therapy. Hasilnya Saudara teman saya itu bisa sembuh dari Depressinya dan berhasil bangkit motivasinya untuk bertanggung jawab pada kehidupannya dan berusaha memberikan yang terbaik untuk kehidupannya.

Beberapa minggu lalu saya juga mentherapy bapaknya teman saya yang menderita penyakit yang gejalanya seperti Parkinson. Namun dari hasil Test Lab, semua normal termasuk hasil CT Scan dan MRI otak. Dokter tidak menemukan penyakitnya. Setelah saya therapy dalam 2 kali pertemuan, hasilnya bapak teman saya itu sembuh. Ternyata sakitnya karena rasa bersalah dan konflik diri yang cukup lama dia simpan.

Beberapa hari lalu ada teman yang menderita sakit kepala seperti ditusuk tusuk paku dan matanya mengalami rabun, penglihatannya kabur. Badannya lemas. Sudah ke dokter beberapa kali namun dokter bilang penyakitnya sebagai penyakit aneh dan hasil test Lab juga normal semuanya. Setelah bertemu saya, NLP pun saya praktekkan. Hasilnya setelah 1 jam therapy, teman saya itu penglihatannya kembali normal, kepalanya sudah tidak sakit, dan sudah bisa cengengesan. Ternyata sakitnya karena rasa ketakutan dan penyesalan diri yang dalam.

Namun yang lebih luar biasa lagi, saya jadi lebih kenal diri saya, skill saya dan apa yang benar-benar saya butuhkan dalam kehidupan saya serta saya jadi tahu dan bisa bagaimana menyusun strategy dan bagaimana melakukan aksi secara sistematis untuk meraih outcome-outcome yang ingin saya capai.
Hari minggu tanggal 20 Juli 2008 kemaren saya memberikan sessi Coaching Motivasi dan Attitude untuk sebuah perusahaan Farmasi besar. Saya jadi mampu menyusun materi materi pembelajaran yang lebih jelas dan aplikatif serta mampu menyampaikannya dengan sangat efektif dan efisien. Waktu itu saya berkolaborasi dengan Mbak Ermalia Normalita yang juga peserta A Practicing NLP Practitioner Dynamic Coaching Angkatan I.

Dari Coaching yang saya ikuti itu saya jadi benar benar mengerti bagaimana menerapkan NLP sehingga menjadi sebuah manfaat bagi kehidupan saya. Bukan Cuma belajar metode dan teknik thok yang selama ini saya bingung menerapkannya.

Kalau ada kesempatan untuk ikutan Dynamic Coaching A Practicing NLP Practitioner, buruan deh ikutan. Kagak bakalan rugi deh. Saya berani bilang bahwa investasi 350 EUR itu sangat murah, ngga sebanding dengan manfaat yang kita dapatkan untuk kehidupan kita. Kalau ngitung materi, saya yang baru bulan kemaren ikutan coaching saja sudah mendapatkan lebih dari 350 EUR dengan mempraktekkan apa yang saya dapat dari Coaching. Bener-bener Top Abissssssss…… terimakasih buat para coach yang sudah memberikan banyak pencerahan pada saya.



Adi Putera on July 21st, 2008 at 12:44 pm #

Selamat Pak Antony sudah jadi dokter alternatif buat masyarakat!

SETAN ALAS on July 21st, 2008 at 2:54 pm #

Yang bener bos! pulang training langsung bisa kayak bos?

Michael Antony on July 21st, 2008 at 4:52 pm #

Untuk Saudara Setan Alas Alus, selama coaching saya menempatkan diri bukan sebagai murid yang nunggu di suapin ama gurunya tapi saya berusaha menggali sendiri pembelajaran yang saya butuhkan dari apa yang disampaikan para coach dan hasl interaksi para pembelajar termasuk diri saya dengan para cocah. Sehingga saya benar benar memperkaya diri dengan pelajaran pelajaran dan pencerahan – pencerahan selama coaching (disinilah saya dapat kesempatan untuk kemaruk), hasilnya sepulang training pundi pundi saya penuh dengan pelajaran dan strategi strategi untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi NLP habis habisan untuk menghasilkan manfaat untuk diri saya sehingga ujungnya saya bisa memberi manfaat pada orang lain. Ini pengalaman saya. Kalau peserta yang lain saya kurang tahu. Mungkin bisa ditanyakan pada temen temen Angkatan I dan II. Ustadz Agus Supriyadi dan Pak Dokter Aji Hoesodo atau Mbak Ermalia Normalita mungkin bisa kasih cerita pengalamannya pribadi setelah mengikuti coaching A Practicing NLP Practitioner. Begitu keterangan saya, saudara Setan Alas Alus, silahkan minta keterangan dengan teman teman yang lain.

F Talarimata on July 21st, 2008 at 5:44 pm #

untuk SETAN ALAS, tena percaya jadi Bos, ngana juga tena percaya, ngana punya sodara sudah sembuh dari gilanya, yg selalu makan obat penenang dan suntik sdh 1 th. dengan pengobatan Pak Antoni dan teman2nya dihotel Kalyana kaliurang jogya, Puji Tuhan dan Berkat Tuhan sodara ngana dipertemukan Pak Antony. Thanks U Pak Antony GBU.

Ary Ambarwati on July 22nd, 2008 at 7:34 am #

Mas Antony, bukankah itu karena MAP Antony sendiri ? sehingga Mas Antony berpendapat seperti itu. maksud saya kan mas Antony belum pernah mengikuti pelatihan NLP sebagaimana biasanya. mungkin kalau Mas Antony sudah mengikuti Training NLP, pendapat mas Antony pasti akan berbeda. mohon maaf mas, ini hanya pendapatku saja.

salam kenal

Rahmadsyah on July 22nd, 2008 at 10:36 am #

Dear Pak Anthony… dikelas NLP atau Traner / motivator pernah ikut NLP biasanya akan membuat perserta trainee nya bingung. inilah yang disebut dengan Nasted Loop. sungguh luar biasa. saya penah tanya sama pak Ronny tentang konsep ini. alhamdulillah diberikan penjelasan singkat, walau belum sempat kasih metaphoranya. baru saya faham betul (ngeh) sangat dengar ceramah Aa gym. Baru saya faham betul. Nested Loop bisa dalam bentuk lisan maupun tulisan. saya buat dalam bentuk tulisan, alhamdulillah berhasil…
Nested Loop apaan sih …????

Rahmadsyah
Certified NLP Practitioner – NFNLP

Bruno on July 22nd, 2008 at 11:25 am #

Nested itu merk susu
Loop itu kaca pembesar

Jadi Nested Loop itu merk susu yang dilihat dengan kaca pembesar

Bruno
Bukan Certified NLP Practitioner

SETAN ALAS on July 22nd, 2008 at 11:26 am #

Semua juga MAP sendiri-sendiri..ya KPK?

Michael Antony on July 22nd, 2008 at 11:35 am #

Buat Saudariku Mbak Ary Ambarwati, memang itu MAP saya, but the MAP is note The Territory. Sebelum ikut coaching A Practicing NLP Practitioner saya sudah mengikuti test matrikulasi NLP Practitioner sebagai syarat untuk mengikuti sertifikasi Time Line Therapy Practitioner di Starfield Institute tempat Mbak Issa Kumalasari. nDilalah saya lulus dan berhasil mengikuti sertifikasi TLT dan mendapat sertifikat practitioner dari The Time Line Therapy Association-nya Pak Tad James. Nah dengan mengikuti Coaching A Practicing NLP Practitioner saya jadi semakin jelas mengaplikasikan ilmu yang namanyanya NLP sehingga bermanfaat untuk diri saya dan orang lain. Malah dalam aplikasi untuk therapy saya jadi memiliki lebih banyak referensi sehingga bisa mengkombinasikan beberapa teknik tersebut dan menghasilkan metode yang setelah saya test operate beberapa kali berhasil dengan baik dan lebih efisien. Anyway, thank you atas masukan dari Mbak Ary yang baik. Menurut saya kita sebagai orang orang yang mempraktekkan NLP harus sering berdiskusi dan saling melengkapi agar benar benar bisa mengeksplorasi dan mengeksploitasi NLP untuk menghasilkan manfaat semaksimal mungkin. Salam Kenal dari saya untuk Mbak Ary. Tuhan Berkati.

Bruno on July 22nd, 2008 at 11:50 am #

Tepatnya: DAPAT benar-benar dengan benar-benar benar mengeksplorasi dan mengeksploitasi NLP untuk menghasilkan manfaat semaksimal mungkin.

Michael Antony on July 22nd, 2008 at 12:05 pm #

Buat Saudaraku Mas Rahmadsyah, saya setuju dengan pendapat anda. Memang untuk menghancurkan terlebih dulu blocking blocking yang di bawa peserta yang beraneka ragam bisa menggunakan teknik nested loop sehingga mereka akhirnya bisa tuning dengan materi yang disampaikan. Metode dan teknik itu bisa kita kembangkan sendiri asalkan kita tahu principles nya, kita harus berani mencoba alias melakukan test operate, test operate lalu test dan exit jika metode dan teknik yang kita kembangkan sudah lulus uji kelayakan. Sebagai pembelajar, inventor ataupun orang yang mempraktekkan NLP kita harus berani mengekslorasi dan mengeksploitasi ilmu yang kita pelajari sampai benar benar menghasilkan manfaat. Dari beberapa percobaan yang saya lakukan, malah ditemukan beberapa metode dan teknik baru yang lebih efisien dan efektif kok mas. Jadi jangan sampai kita terikat sama 1 metode dan teknik saja. Kita harus memperkaya diri dengan banyak variasi dan referensi. Mungkin inilah implementasi dan manifestasi salah satu presuppotition NLP yaitu “The Law of Requisite Variety” (The system (person) with the most flexibility of behavior will control the system). Tapi ini cuma analisa saya lho mas Rahmasdyah yang tentunya berdasar MAP saya. Kalau ada kurang kurangnya, mohon ditambahkan supaya saya yang masih newbie dan belum certified NLP Practitioner bisa mendapatkan pencerahan. Terimakasih Mas Rahmadyah yang baik. Salam Sukses, Tuhan Berkati.

Bruno on July 23rd, 2008 at 2:51 pm #

The Law of Requisite Variety ada hubungannya dengan The Law of Attraction dan The Law of Justice ‘nggak ya?

Pawangnya Bruno on July 23rd, 2008 at 11:36 pm #

Tentu ada sekali hubungannya, mereka sama sama berasal dari marga “The Law of”. Jadi mereka itu satu nenek moyang.

GOiy on July 26th, 2008 at 11:46 am #

pak anthony, saya juga merasakan bagaimanan nikmatnya mempraktekkan NLP…

saya praktek ke tmen2 saya…ehhh ternyata ada perubahan lho di tmen saya ke arah yang baik tentunya dengan kesadaran mereka akan diri mereka…

salam…GOiy di semarang

Antony Ugiono, Michael on July 29th, 2008 at 10:59 am #

Siipp.. Bro Yogi, terus eksplorasi dan eksploitasi NLP Attitude agar bisa menghasilkan manfaat bagi dirimu dan lingkungan sekitar mu. Tuh ada contoh yang bisa di model yaitu DR. Aji Hoesodo. You kan masih muda Gi, beruntung lho udah bisa mempraktekkan NLP. Dapatkan manfaat sebanyak banyaknya dan raih outcome – outcome mu.

bambang h on November 18th, 2008 at 5:54 pm #

tolong dong aku kirimi artikel mengenai memulai praktek NLP yg benar beserta kiat2 sukses NLP. trim’s

Aku Tukang Pos on November 19th, 2008 at 8:59 am #

Wah.. alamat atas nama Bambang H tidak ditemukan. Surat diretur ke pengirim.

Koetjloek on November 22nd, 2008 at 7:44 am #

Hallo Mas bambang. kalo boleh aku bertanya. untuk apa artikel NLP? sebab Mas bambang belum mau ngeh aja , yg sesengguhnya sejak dari kecil kita sudah belajar NLP= memprogram kata2/bahasa kedalam diri.coba deh kalo masih ada artikelnya Om pupungSB yang Mbeling di portal NLP.disitu kalo gak salah ada 9 artikel. artikel itu yg dijadikan materi di practicing pratitioner NLP. coba deh dipelajari,

Post a comment
Name: 
Email: 
URL: 
Comments: