Jul
27
    
Posted (Antony Ugiono, Michael) in Umum on July-27-2008 (425 views)

Waktu kecil saya membaca sebuah cerita yang sangat mengesankan di majalah anak-anak Bobo. Cerita ini mengenai bagaimana seseorang mampu mengembangkan dirinya dengan fasilitas yang sama seperti yang diberikan juga kepada orang lain. Begini ceritanya.

Pada jaman dahulu ada dua orang sahabat yang bernama Jamal dan Jamil. Pada suatu hari Jamal dan Jamil murid dari pertapa Sanjaya berjalan-jalan di dalam hutan. Hutan itu sangat asri dan rimbun, disana-sini tumbuh berbagai macam pohon. Tiba-tiba kedua orang itu menemukan jejak binatang. Dengan lantang Jamal mengatakan kalau itu adalah jejak seekor gajah. Jamil hanya terdiam sejenak, diperhatikannya dengan seksama jejak gajah itu dan diperhatikannya pula pohon-pohon yang tumbuh disepanjang jejak gajah itu. Dia tersenyum, lalu dia mengatakan bahwa gajah itu punya cacat di kaki kirinya, buta mata kanannya, serta memiliki tinggi sekitar dua meter. Jamal tak percaya, maka ia mengajak Jamil untuk bergegas berjalan agar dapat mengejar gajah tersebut. Tak berapa lama, mereka berjumpa dengan gajah yang keadaannya seperti apa yang dikatakan oleh Jamil. Jamal tentu saja terkejut, karena ia heran bagaimana Jamil bisa mengetahui kondisi gajah itu sedemikian mendetilnya. Padahal ia dan Jamil berguru pada guru yang sama, dan mulai berguru pada waktu yang sama pula, tetapi ia merasa belum pernah menerima pelajaran dari pertapa Sanjaya mengenai ilmu membaca jejak binatang semendetil Jamil.

Maka dengan marah-marah Jamal datang pada pertapa Sanjaya, dan berkata ” Hai Bapa’, ternyata sebagai guru Bapa’ tak adil pada murid-muridnya! Mengapa ilmu yang Bapa’ berikan pada Jamil lebih dari saya? Padahal kami berguru pada saat yang sama dan pada guru yang sama pula!”

Pertapa tua itu tak menjawab , tapi ia menyuruh seorang cantriknya memanggil Jamil menghadap. Setelah datang menghadap barulah pertapa Sanjaya bertanya, ” Hai, Jamal, apa yang menjadi masalah sehingga engkau mengatakan aku tak adil?”

Maka sambil melirik jengkel pada Jamil, Jamal-pun menceritakan segala dugaan yang dikatakan oleh Jamil tentang kondisi gajah yang ternyata adalah benar. Lalu dengan lembut Sanjaya bertanya pada Jamil,” Betulkah apa yang dikatakan sahabatmu itu Jamil?”

”Betul Bapa’,” jawab Jamil singkat.

”Mengapa kau bisa tahu tentang kondisi gajah itu dari hanya melihat jejaknya saja, karena seingatku, aku tak pernah mengaajarkannya?” Tanya pendeta tua itu lagi.

”Murid mengetahui kondisi gajah itu cacat kaki kirinya karena terlihat jejak kaki kirinya tidaklah sedalam jejak kaki kanan gajah itu, lalu murid juga menduga gajah itu buta mata kirinya karena pada batang pohon yang ada disepanjang jalan gajah itu tergores oleh gadingnya, sedangkan murid bisa menduga tinggi gajah itu dengan melihat tinggi goresan gading itu sehingga bisa memperkirakan tinggi keseluruhan dari gajah itu, ” kata Jamil menjelaskan jawabannya.

”Aku tak pernah mengajarkan tentang itu wahai muridku, apa kau punya guru selain aku?” tanya Sanjaya.

Maka Jamil menjawab,” Ampun Bapa’, tidak sekali-kalinya murid mengambil guru selain Bapa’. Hanya saja apa yang telah Bapa’ ajarkan tidaklah sekedar murid hapal saja di dalam otak, tetapi murid mencoba untuk mengerti dan memahami, serta mendalami dari apa yang Bapa’ ajarkan kemudian mengembangkannya, sehingga murid bisa tahu kondisi gajah itu hanya dengan melihat jejak-jejak yang ditinggalkannya.”

Sang pendeta hanya tersenyum dan mengangguk seraya menatap tajam pada Jamal yang jadi salah tingkah karena jawaban dari Jamil itu.

Dari cerita di atas dapatlah kita tarik suatu kesimpulan, jika kita mempelajari sesuatu janganlah secara mentah-mentah kita terima begitu saja dan kita simpan diotak tanpa diolah lebih lanjut sehingga sekedar menjadi hapalan saja. Tetapi jika kita ingin maju, maka mulailah untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi ilmu pengetahuan yang kita terima itu sehingga bisa kita kembangkan seluas-luasnya sehingga menjadi satu manfaat baru bagi kita.

Ditulis oleh Mas Bambang Purnomo Sigit (Group di multiply JARGON, Jaringan Guru Online), dicopy paste seijin penulis.

Semoga kisah yang saya copy dan paste dari tulisan Mas Bambang Purnomo Sigit dapat berguna bagi saudara dan saudariku sekalian. Terimakasih Mas Bambang, sudah mengijinkan saya meng-copy paste tulisan anda untuk saya posting di Multiply saya. Tuhan Berkati.

Salam Sukses dan Berkelimpahan Selalu

Michael Antony Ugiono



John nGgrundel on July 28th, 2008 at 11:52 am #

Namanya Practitioner itu ya orang yang mempraktekkan. Kalau ndak mempraktekkan ya namanya bukan Practitioner

nGgerandong NLP on July 28th, 2008 at 1:15 pm #

Bedanya Jamil dan Jamal di Eksploraasi dan Eksploitasi dengan menggunakan VAKOG secara maksimal kali yeeeee….

Muke Gile on July 28th, 2008 at 7:59 pm #

untuk membahas tentang praktisi atau bukan, yang belum sukses seperti dr. Aji Hoesodo maka dilarang komentar.

Bravo dok anda layak dapat Certified Practioner of Life

Muke Waras on July 29th, 2008 at 10:46 am #

Lha kalau outcome nya tidak seperti outcome nya DR. Aji, piye jaall….? Padahal setiap hari orangnya selalu sukses mencapai outcomenya. Juga sudah dapat prestasi yang dapat pengakuan internasional tapi di bidang yang berbeda dengan DR. Aji Hoesodo. Piye jaaalll…? SUCCESS IS A DAILY THING

Aji Hoesodo on July 30th, 2008 at 8:33 am #

mas muke gila…wah saya g enak rasanya disanjung begini. matur nuwun. Oh ya saya sudah membuktikan bahwa congruent dan outcome setting memang ampuh, krn td nya saya berpikir bagaimana saya mencapai posisi kunci di pimpinan partai tanpa saya harus melacurkan diri dgn hukum pasar. Maklum saya orang baru di partai byk orang lama tdk suka dgn karir saya di partai yg begitu cepat. Tapi saya tetap konsekuen dgn hukum ” congruent “tadi hukum pasar bisa saya kalahkan manakala publik melihat mindset saya yg saya gulirkan pada forum Kepemimpinan Nasional, dengan diterimanya mindset saya, maka hukum pasar beralih pada outcome setting saya. Coba kawan2 jika anda punya cita2 yang luhur, congruentlah kawan g usah takut dimusuhi orang. Penolakan akan mundur dengan sendirinya. Congruent yg didasari konsep yg matang akan menumbuhkan integritas dan dedikasi anda! Salam WAW

Ntong Doel on July 30th, 2008 at 1:12 pm #

Selamat Bekerja dan Selamat Mempertahankan Prestasi yang diraih.Semoga dengan “congruent” yang ecology dan flexible actions, menjadi lebih baik dari yang terbaik.Amin

mas bambang purnomo sigit on August 4th, 2008 at 8:12 pm #

terima kasih dengan di copynya tulisan saya… semoga berguna bagi siapapun yang membacanya

nonohermanu on August 29th, 2008 at 11:58 am #

Sebenernya yang ahli (NLP) itu bung Aji karena ibu bapaknya,temen2nya dan lingkungannya. Belajar NLP itu pinjam istilah dan jemput ijazah. iyaa nggak? Orang tua kita2 dulu rata2 ahli gituan lho!cuman yang muda lebih seneng pake yang impor. Sorri bung anda sudah ahli dari dalem.

Post a comment
Name: 
Email: 
URL: 
Comments: